TIPS & TRIK
Cegah Bungkuk Sedari Muda
Memasuki usia kepala empat, orang mulai lebih memperhatikan kondisi
tubuhnya. Misalnya saja Valencia Mieke Randa. Pendiri gerakan Blood for
Life ini mengaku sedikit khawatir akan mengalami kifosis alias bungkuk
saat tua nanti. Alasannya, ia tak menjalankan pola hidup sehat ketika
masih berusia 20-30 tahun.
"Setelah menjalani kesibukan sekian lama, pada umur empat puluhan
ini saya semacam baru tersadar, saya belum melakukan kegiatan yang
tepat dalam menjaga kesehatan tulang," ujar Valencia dalam seminar yang
diadakan Anlene, "Even Heroes Need a Hero", di Kota Casablanca,
Jakarta, Kamis dua pekan lalu. "Apalagi saya berisiko osteoporosis," ia
menambahkan.
Valencia tentu tak sendirian. "Sebelum memasuki usia tertentu,
jarang yang memiliki kesadaran tentang penyakit tulang dan dampaknya,"
kata Head of Medical Sales Fonterra Brands, Muliaman Mansyur.
Salah satu penyakit tulang yang banyak diderita adalah kifosis atau
tubuh bungkuk, dengan salah satu penyebabnya adalah osteoporosis.
Menurut Siti Annisa Nuhonni, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan
Rehabilitasi Departemen Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, kifosis bahkan
bisa diderita oleh orang muda. "Ada yang berusia di bawah 40 tahun,"
katanya.
Kifosis merupakan bentuk kelainan yang terjadi pada tulang belakang.
Ciri kifosis adalah bentuk punggung tidak normal, melengkung ke
belakang, bahkan ada yang lebih dari 50 derajat. Penyebabnya beragam,
misalnya kongenital atau masalah perkembangan, traumatik atau cedera
pada tulang belakang, latrogenik atau efek dari sebuah tindakan medis,
serta osteoporosis atau hilangnya kepadatan tulang yang berlangsung
secara progresif.
Kifosis yang diderita orang muda pada umumnya terdiri dari tiga
jenis berdasarkan penyebabnya. Pertama kifosis postural, yakni yang
disebabkan postur tubuh yang buruk dan melemahnya otot serta ligamen di
bagian belakang (otot paraspinous). Kifosis postural umumnya terjadi
pada perempuan, dan gejalanya muncul pada saat memasuki usia remaja.
Penderita penyakit ini memiliki gejala nyeri di bagian belakang,
disertai bentuk punggung bungkuk.
Kedua, kifosis scheuermann, yakni kifosis akibat kelainan struktur
tulang belakang. Kifosis scheuermann pada umumnya dapat berkembang
menjadi skoliosis atau tulang belakang melengkung ke arah samping.
Kifosis scheuermann biasanya terjadi di bagian leher (servikal), dada
(torakal), maupun pinggang (lumbal). Gejala kifosis scheuermann juga
muncul pada saat penderita memasuki usia remaja.
Ketiga, kifosis bawaan atau kifosis yang disebabkan oleh
perkembangan tulang belakang yang tidak normal ketika masih di dalam
rahim. Kifosis ini paling jarang terjadi. "Seorang ibu hamil yang
kekurangan kalsium sebaiknya waspada terhadap kifosis bawaan ini," ujar
Nuhonni.
Sedangkan kifosis yang disebabkan osteoporosis biasanya lebih banyak
terjadi pada orang tua, dan kebanyakan perempuan. Tulang belakang yang
rapuh dan lemah merupakan penyebab utama kifosis jenis ini.
Menurut Nuhonni, kifosis pada orang muda yang disebabkan kelainan
postur, struktur tulang belakang, dan bawaan masih dapat dikembalikan
ke posisi normal atau mendekati normal. Sedangkan yang diakibatkan
osteoporosis hampir tidak mungkin dikembalikan.
Kifosis postural dan kifosis scheuermann biasanya dapat dipulihkan
dengan terapi fisik yang memperkuat otot punggung dan memperbaiki
postur tubuh. Penghilang rasa sakit dan obat anti-inflamasi juga dapat
mengurangi gejala. Jika kifosis terus berkembang, penderita dapat
menggunakan penyangga tulang. Dan bila lengkungannya semakin parah,
disarankan operasi.
Untuk mencegah kifosis ini, kesadaran menjaga kesehatan tulang sudah
harus tertanam sejak muda. Setidaknya, kenali gejala fisik awalnya.
Caranya, sandarkan punggung ke tembok. Lalu, perhatikan jarak antara
tulang tengkuk dan tembok. "Seseorang yang tidak memiliki gejala
kifosis, antara tulang tengkuk dan tembok tidak ada jaraknya atau
menempel," kata Nuhonni. Kalau diperkirakan ada gejala, konsultasikan
dengan dokter.
CHETA NILAWATY
Jaga Postur Tubuh
Kifosis atau tubuh bungkuk yang terjadi pada usia remaja dan dewasa
biasanya disebabkan postur tubuh dan struktur tulang yang buruk. Karena
itu ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegahnya,
antara lain mengkonsumsi cukup kalsium, tidak mengkonsumsi kafein
terlalu banyak, menjaga postur tubuh secara baik, serta berolahraga.
Berikut cara menjaga postur tubuh:
1. Ketika diam berdiri, biarkan kaki terbuka selebar bahu, sehingga berat badan terdistribusi merata.
2. Tetap menjaga posisi dagu dengan cara melihat lurus ke depan. Jangan menunduk atau melihat ke bawah ketika berjalan.
3. Jaga bahu tetap tegak dalam satu garis lurus.
Dengan menjaga bahu tetap tegak, otomatis tulang dada akan tertarik ke
belakang dan terbuka.
4. Dorong tulang punggung dan panggul (pelvis) agak maju. Posisi ini menjaga tulang punggung tetap pada posisinya.